Oleh: dr Putu Arya Nugraha SpPD, FINASIM
Jawabannya bisa betul, bisa juga tidak. Dan maksud dari pertanyaan di atas, sebaiknya dipahami dalam konteks yang lebih luas. Maksudnya adalah, apakah pengobatan jangka panjang tersebut pada akhirnya memberi manfaat yang besar untuk kesehatan tubuh ataukah sebaliknya, dampak kerugiannya yang lebih besar. Kerugian tersebut memang dapat berupa efek samping ringan yang kurang berbahaya, sampai efek samping berbahaya seperti perdarahan saluran cerna bahkan gagal ginjal. Tentu saja, masyarakat harus memahami efek samping berbahaya dari pemakaian obat jangka panjang, seperti gagal ginjal. Namun, tidak boleh yang terjadi justru kesalahpahaman persepsi yang dapat merugikan. Misalnya, pasien tidak mau minum obat darah tinggi secara rutin terus-menerus karena takut mengalami kerusakan ginjal. Ini jelas sebuah kekeliruan!
Sama halnya pasien dengan diabetes, gangguan asam urat atau jantung, pasien hipertensi pun harus minum obat rutin jangkan panjang. Bahkan boleh dikatakan seumur hidup tidak boleh putus. Justru salah satu manfaat obat darah tinggi tersebut adalah untuk melindungi ginjal, bukannya menyebabkan kerusakan atau gagal ginjal. Selain melindungi ginjal, obat darah tinggi atau obat diabetes yang perlu digunakan jangka panjang itu pun dapat melindungi otak dan jantung. Terkait otak, obat tersebut dapat mencegah stroke dan untuk jantung akan dapat mencegah serangan jantung atau gagal jantung. Bahkan kedua obat tersebut juga dapat melindungi saraf mata dari keruskan yang dapat menyebabkan kebutaan. Untuk itulah, karena pemakaian jangka panjang, jenis-jenis obat tersebut ditanggung oleh pemerintah melalui jaminan kesehatan BPJS. Dan pengambilan obatnya pun dengan mudah bisa didapatkan di puskesmas atau dokter keluarga. Lalu obat apakah yang diminum jangka panjang dapat memberi dampak berbahaya?
Obat tersebut adalah golongan obat anti nyeri yang sering digunakan untuk pengobatan rematik atau radang sendi. Kenyataannya, karena tidak kuat menahan nyeri sendinya, pasien akan terus ke dokter atau paramedis praktek mandiri untuk mendapatkan obat rematik. Tak sedikit yang ke toko obat atau apotik, untuk membeli sendiri obat-obat tersebut. Meskipun jenis obat tersebut tergolong obat keras, pada kenyataannya masyarakat dengan begitu mudahnya membeli obat tersebut secara bebas tanpa petunjuk atau resep dokter. Obat penghilang rasa sakit tersebut jika digunakan dalam waktu berkepanjangan akan dapat merusak lapisan lambung. Akibatnya dapat menyebabkan perdarahan saluran cerna yang sangat berbahaya atau menyebabkan kebocoran lambung yang dapat menyebabkan kematian. Selain itu, obat tersebut juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang dapat mengakibatkan penderitanya gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah sepanjang sisa hidupnya. Lalu bagaiman mengatasi radang sendi agar tidak menimbulkan berbagai dampak serius tersebut?
Sebisa mungkin, kekumatan radang sendi itu harus dicegah. Mulai dari cara melakukan aktifitas fisik yang lebih aman untuk sendi seperti menghindari naik turun tangga berlebih pada usia lanjut, tidak mengangkat benda yang terlalu berat, perlu olah raga ringan teratur seperti berjalan kaki di tempat yang datar. Apabila terkait dengan rematik asam urat, sangat perlu menghindari makanan yang mengandung asam urat seperti alkohol, kulit, jeroan atau daging berlebih. Dan apabila harus minum obat, maka pasien yang memiliki riwayat maag atau pemakaiannya cenderung jangka panjang, sebaiknya dipilihkan golongan anti nyeri yang lebih aman untuk lambung dan ginjal serta dapat disertai dengan pemberian obat untuk melindungi lambung. Ayo menjadi pasien cerdas, ayo lindungi ginjal kita!