(Lina Kamelia-Neurologist di RSUD Kab. Buleleng)
Selama ini praktisi kedokteran/medis telah bekerja untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masayarakat. Awalnya, pendekatan penanganan masalah penyakit atau trauma berbeda dalam hal filosofi, penjelasan ilmiah yang mendasari dan gaya terapan di berbagai budaya di dunia. Perkembangan pengetahuan medis western dimulai sekitar 120 tahun lalu yang berfokus pada penalaran (logic), identifikasi tanda dan gejala (pendekatan reduksionis) untuk tata laksana penyakit. Tidak bisa dipungkiri western medicine adalah -jika tidak bisa dikatakan demikian- satu-satunya pendekatan pengobatan yang di-approved dan diakui terstandardisasi oleh masyarakat dunia.
Kemajuan yang luar biasa bisa dirasakan di berbagai bidang kesehatan dalam sejarah umat manusia. Pemahaman modern terhadap fisiologi tubuh, biokimia, imunologi, sanitasi mengubah wajah suram dunia menjadi lebih “sehat” dengan penemuan alat-alat kesehatan/kedokteran yang sophisticated, vaksin, obat yang diklaim sebagai penyembuh penyakit, membawa dunia western medicine saat ini pada era keemas an.
Intervensi terapeutik kedokteran barat telah menjadi elemen kunci untuk menyelamatkan jutaan orang setiap tahun. Namun kenyataannya bahwa pendekatan konvensional kedokteran barat ini tidaklah mengubah kemungkinan seseorang menjadi sakit (kecuali pada kasus pengobatan dini yang diberikan untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi ke orang lain). Jenis intervensi ini sebenarnya menghasilkan efek paradoks berupa peningkatan tingkat morbiditas absolut. Menurut WHO tahun 2008 (masih relevan hingga saat ini) penyakit tidak menular yang meliputi penyakit kardiovaskular, diabetes, obesitas, stroke, kanker, dan penyakit pernafasan menyumbang 59% dari 57 juta penduduk kematian setiap tahunnya dan 46% dari beban penyakit global. Suatu angka fantastis yang mengerikan mengingat penyakit-penyakit tersebut merupakan life-threatening disease yang menghabiskan energi dan memakan biaya besar.
Dalam beberapa dekade terakhir, gaya pengobatan ini telah menemui masalah, khususnya karena konsep 'satu penyakit - satu target’ atau fokus penanganan pada simptomatologi tanpa menyentuh problem root cause. Konsep 'satu ukuran untuk semua' perlahan-lahan beralih ke pendekatan medis yang lebih personal. Obat-obatan disesuaikan dengan kebutuhan individu. Bukan rahasia lagi nampaknya bahwa terdapat dirty little secret dalam industri ini. Obat-obatan bekerja pada kurang dari 50% orang yang menggunakannya dan kebutuhan perusahaan farmasi untuk mengembangkan kembali paten yang telah lama habis masa berlakunya. Hal ini diakui oleh eksekutif senior perusahaan obat terbesar di Inggris, Allen Roses, GlaxoSmithKline (GSK), seperti dikutip oleh Independent pada 8 Desember 2003. Sebagian besar obat resep tidak bekerja pada kebanyakan orang yang meminumnya. Bisa dikatakan, kurang dari setengah pasien yang diresepkan beberapa obat paling mahal sebenarnya tidak memperoleh manfaat yang diinginkan. Dalam konteks keseimbangan, selayaknya kita juga harus memahami variasi tersebut memang ada sebagai respon wajar terhadap obat-obatan baik kimia maupun alami.
Definisi sehat oleh WHO adalah seperti yang disampaikan pada konsensus tahun 1948 (pun relevan hingga saat ini) bahwa kesehatan adalah “suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya sekedar tidak adanya penyakit atau kelemahan.” Pengejawantahan konsep sehat tersebut lebih kepada suatu kemampuan beradaptasi dan mengatur diri dalam menghadapi kondisi sosial, fisik dan tantangan emosional. Konsep ini diwujudkan dalam teknik dan strategi mendukung pendekatan fungsional medicine untuk perawatan klinis berbagai penyakit.
Functional medicine mengatasi penyebab penyakit, menggunakan pendekatan yang berorientasi sistem root cause secara menyeluruh dan melibatkan pasien dan praktisi dalam kemitraan terapeutik. Ini adalah sebuah evolusi dalam praktik kedokteran yang lebih mampu menjawab kebutuhan layanan kesehatan di abad ini. Jika kedokteran konvensional barat selama ini melihat pasien sebagai suatu penyakit semata, maka dalam sudut pandang functional medicine seorang dokter sebagai praktisi layaknya menangani seluruh pribadi pasien sebagai manusia utuh bukan hanya pada serangkaian gejala yang berdiri sendiri dan terisolasi. Pendekatan ini sangat individual. Praktisi functional medicine menghabiskan waktu bersama pasiennya, mendengarkan riwayat mereka dan melihat interaksi antara faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup yang dapat menyebabkan dan mempengaruhi kesehatan jangka panjang. Hal ini meliputi telaah pola makan dan gaya hidup yang mungkin lebih mendukung fungsi-fungsi tubuh yang vital sehingga bermuara menjadi masalah kesehatan pada seseorang.
Apa perbedaan mendasar antara pendekatan yang dilakukan oleh kedokteran barat konvensional dengan functional medicine? Tentunya ada pada pendekatan terhadap root cause penyakit itu sendiri. Untuk kasus akut, tentunya tidak bisa dipungkiri bahwa penanganan bedah, intervensi vaskular, atau farmakologi merupakan pilihan. Namun akan lain halnya untuk penyakit kronis, yang notabene merupakan masalah kesehatan global, pendekatan functional medicine tampaknya amat menjanjikan memberi luaran yang jauh lebih baik. Sebagai contoh, pada kondisi penyempitan arteri (aterosklerosis). Seorang dokter dan interventionis konvensional akan segera melakukan penanganan stenting pembuluh darah sebagai solusi. Lain halnya dengan praktisi functional medicine, kemungkinan besar akan memicu percakapan dengan pasien tentang faktor lingkungan, genetik, dan gaya hidup apa yang mungkin berkontribusi terhadap penyempitan arteri. Bagaimanapun, banyak fungsi – pola makan yang buruk, ketidakaktifan, ketidakseimbangan hormonal, peradangan kronis – dapat mempengaruhi berdampak pada aliran pembuluh darah.
Dokter tentunya berusaha mengidentifikasi dan mengobati penyebab yang mendasari penyakitnya. Namun melibatkan pasien (kemitraan terapeutik) untuk bersama-sama menciptakan rencana kesehatan dan penyembuhan terhadap dirinya seringkali tidak disentuh oleh kedokteran konvensional. Bagaimanapun juga kesehatan adalah hak azasi sehingga seorang pasien berhak menentukan pendekatan kesehatan apa yang terbaik bagi diri pasien sendiri. Functional medicine mendukung perubahan perilaku melalui pemberdayaan dan pendidikan pasien tentang perawatan kesehatannya.
Fuctional medicine bukan merupakan gelar yang berdiri sendiri. Namun tetap memerlukan suatu sertifikasi. Di luar negeri, seorang praktisi functional medicine dapat berlatar belakang dokter, ahli osteopati, ahli kiropraktik, perawat, ahli naturopati, ahli gizi, dan lainnya. Pengobatan yang dilakukan tidaklah semacam ‘airy fairy’ (bukan tidak praktikal, tidak saintis, tidak juga foolishly idealistic) seperti yang dituduhkan oleh sebagian besar praktisi kedokteran yang belum paham. Para praktisi functional medicine dengan latar belakang dokter pun memberikan terapi farmakologi atau intervensi medis bagi kasus-kasus yang memang diperlukan untuk itu.
Daftar Pustaka
Jia W, Li H, Zhao L, Nicholson JK. Gut microbiota: a potential new territory for drug targeting. Nat Rev Drug Discov. 2008 Feb;7(2):123-9. View Abstract
Huber M, Knottnerus JA, Green L, van der Horst H, Jadad AR, Kromhout D, Leonard B, Lorig K, Loureiro MI, van der Meer JW, Schnabel P, Smith R, van Weel C, Smid H. How should we define health? BMJ. 2011 Jul 26;343:d4163. doi: 10.1136/bmj.d4163.
Guthrie, C. 2009. Guide to Fuctional Medicine. www.experience life.com