Dr Putu Arya Nugraha SpPD FINASIM - PERSI Bali
Saat ini anemia masih merupakan masalah kesehatan utama dalam masyarakat kita. Untuk itu, edukasi masih perlu ditingkatkan agar pemahaman masyarakat mengenai anemia menjadi lebih baik dan dapat menjalankan program terapi yang lebih tepat. Masih banyak orang, bahkan dari kalangan petugas kesehatan (nakes) menganggap anemia disebabkan hanya oleh karena permasalahan nutrisi, sehingga meyakini pengobatan anemia cukup dengan mengonsumsi suplemen zat besi saja. Kedua, dengan meningkatkan kadar hemoglobin (Hb) dalam tubuh, baik dengan suplemen zat besi atau transfusi darah, maka masalah anemia dianggap sudah tuntas. Atau masih mengira, anemia disebabkan oleh karena hal-hal yang tidak terbukti secara ilmiah, seperti kebiasaan begadang, aspek psikologis atau faktor kelelahan. Kekeliruan-kekeliruan tersebut tentu saja dapat memberi dampak pada penanganan anemia yang kurang tepat sehingga hasilnya menjadi tidak optimal.
Jika mengikuti cara berpikir masyarakat, tak ada salahnya anemia dibedakan menjadi anemia yang terkait kekurangan (defisiensi) zat besi dan anemia oleh karena sebab lain. Kekurangan zat besi sebagai penyebab anemia dapat disebabkan oleh karena kurangnya asupan zat besi, kebutuhan zat besi yang meningkat dan terakhir tentu saja dapat disebabkan oleh suatu proses kehilangan zat besi yang tidak normal. Kekurangan asupan zat besi, terkait langsung dengan faktor nutrisi yang kurang memadai dalam periode waktu yang cukup lama, terutama asupan protein sebagai sumber utama zat besi. Kondisi ini dapat terjadi akibat faktor sosial ekonomi yang rendah atau kemiskinan, namun dapat juga terjadi jika seseorang menerapkan gaya hidup vegan yang ekstrim dalam kurun waktu yang sangat lama. Bagaimana pun juga, tubuh tetap memerlukan asupan protein yang memadai, bukan hanya sebagai sumber zat besi namun juga sebagai sumber energi bagi tubuh, selain sumber energi yang berasal dari zat tepung (karbohidrat) dan lemak. Sepanjang jumlah pretein yang dimakan masih mengacu pada konsep gizi seimbang, maka dampak buruk protein berlebih bagi tubuh dapat dicegah.
Saat masa pertumbuhan anak-anak, pada ibu hamil maupun lansia, kebutuhan zat besi cenderung meningkat. Pada kelompok ibu hamil, tentu saja hal ini memerlukan perhatian yang lebih serius, meskipun pada anak-anak dan kelompok lansia juga memerlukan perhatian. Langkah yang diambil pun cukup sederhana yaitu meningkatkan asupan protein dalam makanan atau pemberian suplemen zat besi, terutama pada ibu hamil. Sedangkan anemia kekurangan zat besi yang disebabkan oleh karena kehilangan zat besi akibat perdarahan menahun akan memerlukan penanganan yang lebih kompleks. Contoh paling sering adalah anemia akibat haid yang berlebihan pada wanita. Hal tersebut terjadi baik karena volume darah haid yang bertambah banyak maupun durasi haid yang lebih sering atau lebih lama. Ada dua kemungkinan sebagai penyebab, yaitu kelainan struktur organ rahim seperti adanya tumor (myoma) dan kista atau adanya gangguan hormonal.
Maka penanganan anemia seperti ini, tidak cukup hanya dengan menambahkan darah atau zat besi semata. Namun wajib ditangani penyebab dasar dari anemia tersebut. Selain akibat gangguan haid, anemia kekurangan zat besi juga dapat disebabkan oleh karena penyakit ambeyen (hemoroid), adanya cacing di dalam usus, luka pada lambung (ulkus/tukak) akibat penggunaan obat anti nyeri (rematik) yang lama atau dapat saja karena adanya tumor pada usus. Dokter dan pasien hendaknya bersama-sama memahami masalah medis yang dialami pasien, lalu sepakat untuk melaksanakan penatalaksanaan yang bersifat komprehensif. Bukan hanya bersifat suportif, meningkatkan kadar Hb pasien, namun juga melakukan penanganan bersifat kausatif atau mengatasi penyebab dasarnya. Sehingga diharapkan masalah anemia trsebut tidak terulang kembali.
Di samping akibat kekurangan zat besi, penyebab lain anemia, masih sangat banyak. Dan penting untuk diketahui di sini, penanganan anemia tersebut tentu saja tidak bisa dengan pemberian suplemen zat besi atau memperbaiki asupan nutrisi saja. Sejumlah penyebab anemia tersebut antara lain, anemia oleh karena berbagai penyakit kronis seperti penyakit liver, ginjal atau penyakit autoimun, keganasan/kanker termasuk kanker darah, produksi sumsum tulang yang menurun atau akibat reaksi antibodi yang menyebabkan sel darah merah mengalami kerusakan dan yang bersifat genetik seperti thalasemia. Pada kondisi seperti ini, penanganan anemia utamanya adalah pemberian transfusi darah yang sangat hati-hati, pengobatan penyakit kronis tersebut serta kemungkinan pemberian obat dalam jangka waktu yang panjang. Oh ya, jangan lupa penyebab anemia akibat kehilangan darah akut seperti pada kecelakaan atau perdarahan saat melahirkan. Pada situasi seperti ini, pasien harus diberikan transfusi yang cepat dan masif. Kendala sering terjadi saat mana stok darah di PMI sangat terbatas. Oleh karena itu, sangat baik jika kita ikut berbagi, dengan mendonorka darah kita untuk sesama yang memerlukan.