dr Putu Arya Nugraha SpPD FINASIM/PERSI Wilayah Bali
Seseorang sering kali merasa panik saat mengalami demam. Atau saat anggota keluarga yang lain mengalaminya, terutama jika anaknya atau dapat juga orang-orang terdekat lainnya. Apalagi di saat seperti sekarang ini, saat infeksi demam berdarah dengue (DB) lagi merebak. Menjadi cukup beralasan dan relatif mudah bisa dimaklumi, masyarakat menjadi panik karena jumlah kasus DB lumayan melonjak dan telah menelan korban jiwa. Selain itu, demam sering kali dikhawatirkan menimbulkan kejang jika dialami oleh anak-anak. Edukasi terkait demam, cukup penting untuk masyarakat awam sebagai pegangan dalam bersikap sehingga tidak menimbulkan kepanikan berlebih apalagi tindakan-tindakan medis yang kurang rasional. Tindakan-tindakan yang kurang rasional tersebut antara lain penggunaan antibiotika yang kurang tepat atau keinginan pemeriksaan lab sebelum waktunya yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi.
Kejang pada demam, umumnya hanya terjadi pada anak-anak yang berumur kurang dari 4 tahun. Ini yang dikenal sebagai kejang demam. Jadi, kejang tidak akan terjadi pada semua umur pada anak-anak, apalagi pada usia remaja. Jika demam terjadi pada anak-anak yang berumur kurang dari 4 tahun, memang sangat perlu penanganan intens untuk mencegah kejang. Gejala kejang memang akan dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel saraf otak. Semakin sering kejang, semakin besar risiko kerusakan otak yang ditimbulkan. Pemberian antibiotika, hanya boleh atas saran dokter yang jika demam tersebut disebabkan oleh bakteri. Demikian juga jika disebabkan oleh parasit maka akan diberikan anti parasit. Apabila demam tersebut hanya disebabkan oleh virus, maka antibiotika sama sekali tidak diperlukan. Sedangkan pemeriksaan lab untuk DB lebih tepat dilakukan pada demam hari ke-4. Karena pada hari tersebut akan terjadi penurunan trombosit yang bermakna dan merupakan mulai masa kritis penderita DB.
Ada berbagai penyebab demam. Selain infeksi, dapat juga karena peradangan/inflamasi, keganasan/kanker, dapat juga karena dehidrasi atau kekuranagn cairan. Infeksi dapat oleh karena virus, bakteri maupun parasit, bahkan jamur yang bersifat sistemik. Infeksi tersebut dapat bersifat baru atau akut, dapat pula yang sudah lama atau kronis. Infeksi akut umumnya memberi keluhan panas tiba-tiba dan cenderung lebih tinggi, misalnya demam pada kasus DB, radang tenggorokan atau radang pada rematik asam urat. Sementara demam kronis, cenderung sumer-sumer namun dapat menjadi semakin tinggi dan berlangsung lama, contohnya infeksi TBC, HIV atau penyakit autoimun. Hampir semua demam akibat infeksi memberi juga keluhan nyeri kepala, otot dan sendi serta gejala mual muntah. Keadaan lingkungan, pun sangat menentukan penyebab demam tersebut. Misalnya saat ini, sedang peralihan musim menyebabkan cukup banyak kasus DB, maka kewaspadaan kita harus lebih besar terhadap kemungkinan DB tersebut. Apabila di wilayah tertentu ada banyak kasus meningitis babi, maka keluhan demam disertai nyeri kepala di wilayah tersebut perlu dipikirkan kemungkinan meningitis babi. Tentunya dengan melihat ada tidaknya riwayat mengonsumsi penganan babi mentah oleh penderita.
Apa yang dilakukan jika demam?
Dengan memahami ulasan di atas, kita dapat menyikapi gejala demam dengan lebih tenang dan tidak panik. Apabila demam hanya disertai gejala umum yang ringan seperti nyeri kepala, otot dan sendi dan kurang dari 4 hari, maka cukup diobati dengan penurun panas saja, minum yang cukup serta istirahat. Umumnya demam seperti ini disebabkan oleh virus. Namun belum bisa dipastiakn apakah DB atau bukan. Kecuali nyata disertai tanda-tanda pendarahan pada kulit atau dari selaput lendir seperti mimisan atau pendarahan gusi, maka hal itu dapat dicurigai disebabkan oleh DB. Jika hari ke-4 masih demam, itu saat yang tepat untuk konsultasi ke dokter keluarga untuk kemungkinan cek lab. Apabila demam tersebut disertai keluhan tambahan yang spesifik, itu dapat menjadi dugaan sebagai penyebab. Misalnya, demam disertai batuk pilek dan nyeri menelan, umumnya disebabkan oleh infeksi saluran nafas atas atau THT, akibat bakteri. Apabila disertai batuk dan sesak nafas, bisa jadi akibat infeksi paru-paru. Dan jika lebih dari 2 minggu, sebaiknya diperiksakan dahak atau rontgen paru-paru, guna memastikan kemungkinan infeksi TBC paru.
Jika disertai nyeri saat berkemih, biasanya akibat infeksi saluran kemih. Demikian juga, jika disertai gangguan saluran cerna bawah seperti diare, sangat mungkin telah terjadi infeksi pada usus. Perlu dicek juga demam yang disertai keluhan nyeri ulu hati dan adanya warna kuning pada mata. Itu bisa mengarahkan pada infeksi saluran empedu atau radang hati. Apabila demam disertai pembengkakan sendi, harus dipikirkan kemungkinan rematik asam urat akut. Sementara demam-demam yang telah berlangsung lama, sangat mungkin diakibatkan oleh penyakit karena infeksi HIV, keganasan/kanker atau akibat penyakit auto imun. Pada keadaan seperti ini, pasien dan keluarga harus terus berkonsultasi secara rutin dengan dokter, untuk menemukan penyebab demam tersebut. Sebab, tanpa mengetahui penyebab pastinya maka terapi yang diberikan tidak akan tepat dan akurat. Meskipun secara teoritis, penyebab demam umumnya dapat dipastikan, namun pada sedikit kasus, penyebab demam pada seorang pasien sangat sulit ditemukan. Hal ini sering dikenal sebagai unknown fever origin atau UFO. Pada keadaan seperti ini, dokter akan mencoba berbagai skema terapi untuk mengatasi masalah tersebut.