Dr Putu Arya Nugraha SpPD FINASIM - PERSI Bali
Banyak orang masih menganggap serangan jantung yang terjadi tiba-tiba itu, adalah penyakit yang memang betul-betul terjadi secara tiba-tiba. Dalam artian secara tiba-tiba tanpa adanya faktor penyebab yang diketahui dan serangan itu akan dapat datang begitu saja secara acak. Padahal, sebetulnya serangan jantung selalu didahului oleh serangkaian kondisi medis dalam waktu yang cukup panjang. Yang pada akhirnya menimbulkan serangan jantung sebagai sebuah komplikasi yang mematikan dan terkesan tiba-tiba. Ini merupakan fenomena yang menarik dan patut diwaspadai karena, rangkaian kondisi medis yang mendahului serangan jantung yang fatal tersebut, justru sering kali tidak memberikan keluham dan tanda. Bersifat fatal dalam hal ini, karena merupakan kondisi medis fase akhir yang menyebabkan kerusakan organ-organ vital seperti otak, ginjal dan tentu saja jantung bahkan kematian. Dari kenyataan bahwa kondisi yang mendahului serangan jantung umumnya tidak memberi gejala, maka ada tantangan besar bagi masyarakat untuk mencegah serangan jantung tersebut. Namun demikian, sesungguhnya tantangan tersebut dapat dijawab dengan relatif mudah dan sangat efektif.
Mencegah serangan jantung memerlukan pengetahuan dan penerapan pengetahuan tersebut secara efektif dan berkesinambungan. Seperti disebutkan di atas, sesungguhnya serangan jantung tidaklah terjadi secara tiba-tiba begitu saja. Hal itu umumnya selalu diawali oleh, apa yang dikenal sebagai faktor risiko. Semakin banyak pada seseorang terdapat faktor risiko, maka semakin besar risiko yang bersangkutan akan mengalami serangan jantung. Yaitu terjadinya sumbatan pembuluh darah jantung yang dapat menimbulkan penurunan fungsi jantung dalam berbagai derajat. Dari yang ringan dengan keluhan nyeri dada yang cepat membaik sampai yang sangat berat dan menimbulkan kematian mendadak. Berbagai faktor risiko yang dimaksud adalah jenis kelamin laki-laki, usia di atas 40 tahun, hipertensi, diabetes, kolesterol, kegemukan, rokok, faktor stres emosional, gaya hidup sedentari dan juga genetik. Jika diperhatikan, dari semua faktor risiko tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor-faktor yang bisa dimodifikasi dan yang tidak bisa dimodifikasi.
Faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara lain faktor genetik, usia dan jenis kelamin. Faktor genetik dimaksudkan apabila ada kasus serangan jantung pada usia muda yang masih terdapat hubungan kekerabatan atau hubungan darah dengan seseorang. Nah, dengan dipahaminya bahwa berbagai faktor risiko ini tidak dapat diintervensi, maka seseorang yang memiliki faktor risiko tersebut, wajib betul-betul mengelola pencegahan faktor risiko lain yang dapat dimodifikasi. Yaitu mencegah kegemukan, mengelola stres emosional, melakukan kebiasaan olah raga yang rutin dan teratur, mengendalikan hipertensi, diabetes dan kolesterol. Berat badan harus dipastikan sesuai berat badan ideal menurut indeks masa tubuh. Dengan perhitungan berat badan dalam (kg) dibagi tinggi badan kuadrat (m), harus berada pada rentang 18.5-25. Stres emosional dapat memacu hormon adrenalin dan hormon kortisol (stres hormon) yang keduanya memberi dampak buruk kepada jantung. Hormon adrenalin dapat meningkatkan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung, sementara hormon kortisol atau steroid dapat memperburuk lemak darah. Oleh karena itu konsep pengelolaan diri atau self mastery sangat dibutuhkan dalam pencegahan penyakit jantung koroner sebagai penyebab serangan jantung.
Melakukan olah raga teratur dan berkesinambungan, secara bermakna dapat menurunkan berat badan, mengendalikan tekanan darah, gula darah, kolesterol dan tentu saja memperbaiki mood atau suasana perasaan. Tentunya juga menjaga kekuatan dan kelenturan otot dan sendi. Jenis olah raga yang dipilih harus disesuaikan dengan kondisi fisik. Secara praktis, jalan cepat atau lari sangat disarankan. Dengan frekuensi sedikitnya 5 kali seminggu dengan durasi rata-rata 45 menit. Sementara pada mereka yang mengidap hipertensi, diabetes dan kolesterol, maka selain diet dan olah raga teratur, harus dipastikan juga sudah minum obat secara rutin dan tidak boleh terputus kecuali menurut rekomendasi dokter yang merawat. Pemeriksaan tekanan darah dan lab secara berkala juga sangat diperlukan untuk memastikan, baik tensi maupun kadar gula dan kolesterol darah sudah sesuai target. Tekanan darah diharapkan di bawah 140/90 mmHg, kadar gula darah puasa rata-rata di bawah 130 g/dL dan setelah makan di bawah 180 g/dL, sementara kolesterol total di bawah 200 mg/dL, LDL di bawah 100 mg/dL dan triglisirida di bawah 150 mg/dL.
Serangan jantung tidak terjadi secara tiba-tiba dan kita dapat mencegahnya!