Berita Terkini

Berita dan Artikel

  • Home
  • /
  • Berita
  • /
  • Mengapa Penyakit TBC Paru Sulit Diberantas?
Mengapa Penyakit TBC Paru Sulit Diberantas?
Persi Bali 28 October 2024 Kesehatan

Mengapa Penyakit TBC Paru Sulit Diberantas?

Dr Putu Arya Nugraha SpPD FINASIM - PERSI Bali

Persoalan penyakit TBC paru semakin sulit diatasi. Bahkan saat ini Indonesia berada pada peringkat nomor dua dunia, dalam hal tingginya jumlah penderita penyakit TBC paru. Jumlah pengidap TBC paru di Indonesia menembus angka satu juta dan menyebabkan kematian tak kurang dari 134 ribu per tahun. Penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mikrobakterium tuberculosis ini menjadi masalah kesehatan yang pelik dan memberikan dampak sosioekonomi yang besar bagi negara. Meskipun dengan penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta  penemuan obat-obatan anti TBC sejak lebih dari setengah abad lalu telah menekan jumlah kasus maupun kematian akibat TBC paru secara global, namun  kabar baik tersebut belum terjadi di tanah air. Maka dapat disimpulkan, masyarakat kita belum menerapkan secara serius PHBS maupun pola pengobatan yang baik hingga tuntas. PHBS memerlukan upaya terpadu dan terus-menerus. Begitu pula pengobatan TBC paru yang menyita waktu yang panjang, 6 bulan atau lebih, harus dijalani dengan tekun dan disiplin. Berikut adalah berbagai faktor penghambat dalam mengentaskan masalah TBC paru di Indonesia.

                Penerapan PHBS yang belum optimal. Seperti yang sudah ketahui bersama, penyakit infeksi didasari oleh interaksi tiga faktor yaitu inang (manusia), lingkungan dan kuman itu sendiri. Faktor manusia dan lingkungan jelas terkait erat dengan PHBS. Fakta yang ada dalam masyarakat kita terkait kebersihan adalah pengelolaan sampah yang masih buruk, pemukiman kumuh berhimpitan yang belum menemukan solusi serta kawasan tanpa rokok yang sering dilanggar. Dari sisi pola hidup sehat yang terjadi justru semakin banyaknya penderita diabetes yang memberi risiko lebih besar tertular TBC paru akibat imunitas tubuh yang menurun. Disamping faktor genetik, diabetes tentu disebabkan oleh berbagai pola hidup yang kurang sehat seperti pola makan berlebih, latihan fisik yang kurang serta keengganan check up untuk mengetahui lebih dini gangguan kolesterol maupun gula darah itu sendiri. Begitu juga prilaku seksual yang belum safe dan penyalahgunaan narkoba injeksi, menyebabkan peningkatan kasus infeksi HIV yang terkait langsung dengan penurunan daya tubuh dan memudahkan penularan TBC paru. 

                Pengobatan yang tidak tuntas. Faktor pasien adalah penyebab paling besar masalah ini. Masih sangat banyak pasien yang enggan berobat sampai tuntas dan dinyatakan sembuh dengan berbagai alasan. Alasan-alasan tersebut antara lain waktu yang lama, efek samping obat yang mengganggu, dukungan keluarga yang kurang, merasa sudah sehat saat setelah pengobatan beberapa bulan dan memang ada pula efek samping yang menyebabkan pengobatan harus ditunda atau dihentikan oleh dokter. Padahal, obat TBC paru itu sangat spesifik, tidak bisa diganti dengan obat lain, dan harus diminum dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Dengan demikian peluang kesembuhan akan sangat besar bagi pengidap. Apalagi pemberian obat TBC paru sampai saat ini bersifat program. Artinya obat tersebut diberikan secara gratis baik bagi mereka yang punya jaminan BPJS maupun yang tidak. Apabila pengobatan tidak dilakukan secara tuntas, sudah hampir dapat dipastikan penderitanya tidak sembuh dan kemudian dapat menularkan kepada orang lain, terutama anggota keluarga sendiri yang tinggal serumah.

                Resistensi terhadap pengobatan. Kasus pasien TBC paru yang kebal obat semakin banyak ditemukan. Menyebabkan jangka waktu pengobatan semakin panjang dan peluang kesembuhan menjadi berkurang. Kekebalan terhadap obat diakibatkan oleh berbagai sebab antara lain pasien TBC paru yang putus obat atau minum obat tidak teratur. Pasien-pasien yang sudah kebal pengobatan ini, akan membentuk rantai yang ujungnya sulit ditangkap, sebab jika menularkan penyakitnya akan menularkan penyakit yang sudah kebal terhadap pengobatan. Oleh karena itu, komitmen terutama para pasien sangat dituntut untuk mau berobat secara teratur sampai tuntas dan sembuh, serta dukungan keluarga atau lingkungan dan petugas kesehatan yang merawat juga harus dipastikan semakin baik. Saat pasien TBC paru kebal dengan pengobatan lini pertama, maka akan diberikan obat lini kedua. Nah, ternyata obat lini kedua ini pun, yaitu golongan obat quinolon, sudah dalam ancaman resistensi yang disebabkan oleh karena pemakaiannya yang tidak rasional oleh para petugas kesehatan. Terlalu banyak pemakaian obat antibiotika golongan quinolon tidak sesuai indikasi dalam masyarakat. Betapa mengerikannya masa depan dunia kesehatan bangsa ini jika resistensi kuman demi resistensi kuman terus bertambah. 

                Stigma pengidap TBC paru. Harus diakui dan patut disayangkan, hingga kini masih ada fenomena stigma dalam masyarakat terhadap sejumlah penyakit seperti TBC paru, kusta dan Aids. Situasi ini memberi dampak buruk bagi pengidapnya, menjadi cenderung denial dengan penyakit yang dideritanya. Akibatnya tentu saja menjadi penghambat utama dalam proses pengobatan dan penyembuhan penyakit-penyakit tersebut. Apalagi penyakit Aids memberi risiko yang sangat besar terhadap penularan TBC paru, mengingat kuman TBC bersifat endemik di Indonesia. Untuk itu masyarakat perlu terus mengembangkan sikap empati terhadap para penderita, dan bagi petugas kesehatan perlu strategi lebih manusiawi dalam mencegah penularan agar tidak terkesan mengucilkan para penderita TBC paru tersebut. Dari sejumlah faktor penyabab yang menjadi penghambat pengentasan penyakit TBC paru dalam masyarakat, tampak jelas solusi baru dapat diraih jika ada upaya terpadu dari pemerintah, masyarakat, penderita dan keluarganya serta para petugas pemberi layanan kesehatan. 

  • Bagikan: