Berita Terkini

Berita dan Artikel

  • Home
  • /
  • Berita
  • /
  • Meningitis Suis; Ketika Mebat Dan Makan Lawar Menjadi Dilema
Meningitis Suis; Ketika Mebat Dan Makan Lawar Menjadi Dilema
Persi Bali 25 March 2024 Kesehatan

Meningitis Suis; Ketika Mebat Dan Makan Lawar Menjadi Dilema

L.P.Lina Kamelia (Dokter spesialis neurologi RSUD Kab.Buleleng) Adalah hal yang lumrah saja jika Bali menjadi sorotan karena pesona pariwisatanya. Namun ternyata ada hal lain yang menyebabkan Bali menjadi fokus perhatian belakangan ini. Di berbagai daerah di Bali marak terjadi kasus infeksi selaput otak Meningitis Suis (M.Suis) yang bersumber dari babi terinfeksi bakteri Streptoccus Suis (S.Suis), suatu patogen zoonosis terabaikan yang tidak hanya menyebabkan wabah infeksi di Bali saja, namun juga di beberapa negara Asia seperti Tiongkok, Vietnam dan Hong Kong. Terdapat persamaan karakteristik konsumsi pangan babi pada daerah tersebut yaitu sama-sama memiliki jenis kuliner olahan babi mentah/setengah matang. Meningitis bukan satu-satunya bentuk infeksi S.Suis yang dialami manusia. Kontak dengan patogen ini menyebabkan manusia rentan mengalami infeksi lain seperti artritis (radang sendi), miokarditis (radang otot jantung), dan endopthalmitis (radang jaringan dan cairan bola mata). Meningitis merupakan salah satu bentuk infeksi S.Suis berat dengan risiko kecacatan yang tinggi. Penderita M. Suis mengalami gejala trias meningitis yaitu demam, nyeri kepala dan kaku kuduk. Namun terdapat gejala khas infeksi ini yaitu ketulian yang bersifat sensorineural (tuli saraf). Hal ini tentunya memciptakan keputusasaan pada penderita karena walaupun pada akhirnya selamat dari infeksi tetapi sequele (gejala sisa) berupa ketulian bisa jadi akan dialami sepanjang hayat. Suatu studi literatur sistematik tahun 2014 yang mengambil sampel penelitian di negara-negara Asia menunujukkan bahwa tuli saraf menduduki peringkat pertama sequele penyakit ini (39,1%). Disfungsi vestibular (vertigo, dizziness) adalah penderitaan yang menduduki peringkat berikutnya. M.Suis layak disebut sebagai life threatning disease di daerah endemi termasuk Bali. Sebenarnya faktor risiko paparan S.suis tidak hanya dari menelan daging dan darah babi mentah/setengah matang. Risiko penularan sudah bisa terjadi saat pemeliharaan, penyembelihan, dan pengolahan babi terinfeksi. Kenyataan tersebut justru merupakan celah bagi kita untuk melakukan upaya preventif guna mengurangi potensi penularan. Adapun budaya Mebat (membuat lawar dari bahan daging, darah dan sayur) merupakan salah satu nafas kehidupan budaya Bali yang rasanya tidak akan mungkin ditinggalkan. Seberat apapun risiko infeksi yang dapat dialami pecinta lawar getih tidak akan melunturkan semangat untuk mengolah dan mengkonsumsi kuliner tersebut. Tidak ada yang salah dalam hal mencintai budaya. Namun infeksi dengan risiko tingkat kematian dan kecacatan yang cukup tinggi seharusnya bisa membuka mata kita semua agar dapat bersikap bijak menilai kondisi ini. Pendekatan preventif penting untuk disosialisasikan sehingga masyarakat awam bisa mengetahui cara-cara pengolahan dan konsumsi babi yang aman. Berikut terdapat beberapa tips yang bisa dilakukan untuk bisa Mebat dengan aman, yaitu: - Pilih daging babi yang bisa dipertanggungjawabkan kesehatannya. Kita wajib mampu mengidentifikasi daging mentah sehat. Pilih daging berwarna merah muda, tekstur kenyal, dan masih memiliki lapisan lemak warna putih di bagian bawah kulit. Pastikan daging tersebut tidak bau, tidak berlendir, kesat serta tidak benyek. Daging benyek (berair) berisiko lebih besar terkontaminasi bakteri apapun. Ingat, jangan tergiur oleh harga murah! - Perhatikan baik-baik kondisi tubuh kita, termasuk keadaan kulit. Adakah luka di kulit kita yang bisa menjadi tempat masuk kuman. Jika ragu maka dapat menggunakan peindung berupa selop tangan saat mengolah daging babi. Masaklah daging babi minimal pada suhu 70o agar patogen tersebut mati. - Darah dan jeroan merupakan organ yang paling berisiko menularkan patogen ini. Sebisa mungkin hindari mengkonsumsi darah dan daging setengah matang. Lawar pun bisa dimodifikasi menjadi kuliner luar biasa yang tidak meninggalkan ciri khas budaya walaupun tidak terdapat darah mentah didalamnya. - Selalu ingat mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum makan, setelah mengolah daging babi, setelah bersentuhan dengan tubuh babi dan menyembelih ternak tersebut. - Pemeliharaan babi yang higienis dan mengutamakan sanitasi yang baik, tidak bisa tidak, harus dilakukan oleh peternak. Jaga selalu agar kandang cukup sinar matahari. Alirkan air limbah kotoran agar tidak tergenang. Bersihkan kandang tiap hari agar tubuh babi tidak bercampur kotorannya. Jika ada babi sakit segera pisahkan dari yang sehat. Eradikasi babi sakit, jangan sampai dikonsumsi oleh manusia. Dengan melakukan manajemen risiko terhadap penyakit ini maka kita oleh yakin bahwa kegiatan mebat dan konsumsi lawar akan aman-aman saja. Namun ada baiknya kita selalu memahami triad epidemiologi, bahwa seseorang bisa sakit karena interaksi agent (patogen), host (pejamu) dan lingkungan. Jika salah satunya terganggu maka manusia akan jatuh pada kondisi sakit. Disamping menghindari patogen S.suis maka akan sangat berguna jika kita selalu meningkatkan daya tahan tubuh secara optimal dan menjaga lingkungan yang sehat agar terhindar dari penyakit ini. Apabila sakit tidak dapat dihindarkan maka segeralah datang ke pusat layanan kesehatan jika anda mengalami demam, nyeri kepala, pusing, telinga berdengung atau penurunan pendengaran secara tiba-tiba setelah makan atau kontak dengan daging babi. Kewaspadaan dini terhadap gejala penyakit berperan besar dalam menentukan keselamatan kita. Sumber : 1. Huong V, Ha N, Huy N, Horby P, Nghia H, Thiem V, dkk. Epidemiologi, Manifestasi Klinis, dan Hasil Infeksi Streptococcus suis pada Manusia. Muncul Infeksi Dis. 2014;20(7):1105-1114. https://doi.org/10.3201/eid2007.131594 2. Susilawathi, dkk. Streptococcus Suis Associated-Meningitis, bali, Indonesia, 2014-2017. Emerg Inf Dis. 2019;25(12):2235-42. https://doi.org/10.3201/eid2512.181709

  • Bagikan: