Oleh: dr Putu Arya Nugraha, SpPD, FINASIM
Penyakit diabetes atau kencing manis, merupakan salah satu penyakit kronis (menahun) terbanyak dalam masyarakat. Namun demikian, ternyata masih banyak pemahaman keliru atau mitos-mitos tentang penyakit yang sangat berbahaya ini. Meyakini mitos tentu saja akan sangat merugikan, baik bagi pengidap diabetes itu sendiri maupun bagi upaya membangun kesehatan masyarakat secara umum. Oleh karena itulah, pilar pertama pengelolaan diabetes ditekankan aspek pengetahuan yang benar mengenai penyakit diabetes. Setelah itu diikuti dengan nutrisi yang tepat, latihan fisik yang optimal dan obat-obatan sesuai rekomendasi dokter. Disamping itu, perlu diperhatikan pula salah satu komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien diabetes, yaitu kaki luka diabetes. Jika tidak dilakukan pencegahan maupun penanganan yang baik, tak sedikit luka kaki diabetes sampai harus memerlukan tindakan amputasi kaki.
Berbagai mitos terkait diabetes antara lain, ada diabetes basah dan kering, insulin menimbulkan ketergantungan, obat diabetes jangkan lama dapat merusak ginjal, berbagai nutrisi alternatif sebagai terapi diabetes. Tak sedikit pasien diabetes yang jika mengalami luka dan kemudian sembuh, menganggap diri mereka dalah pengidap diabetes kering. Sehingga dengan jenis diabetes ini, pasien tidak perlu terlalu hati-hati mencegah luka pada kakinya. Sebetulnya tidak ada jenis diabetes kering atau basah. Yang ada adalah jenis diabetes tipe 1 atau bawaan sejak kanak-kanak, tipe 2 yang didapat setelah dewasa, diabetes pada kehamilan dan diabetes karena sebab lain. Nah, untuk pengidap semua jenis diabetes ini wajib dan tak boleh ditawar-tawar, untuk mencegah luka, terutama pada kaki mereka. Dengan cara sederhana yaitu selalu memakai sandal atau alas kaki baik di dalam maupun di luar rumah. Yang membuat luka bisa lebih cepat sembuh dan kering adalah karena pengendalian diabetes yang lebih baik, tentu saja termasuk kadar gula darah yang terus terkontrol.
Insulin merupakan salah satu pilihan obat terbaik untuk pengidap diabetes. Hal ini terutama bagi pasien yang gula darahnya tidak terkontrol dengan kombinasi maksimal obat minum. Juga pada berbagai keadaan seperti penderita diabetes yang disertai infeksi, penyakit ginjal, dengan kehamilan atau yang berat badannya sangat turun drastis. Maka dalam hal ini, tubuh pasien memang memerlukan insulin. Dalam hal ini, tidak tepat dianggap sebagai sebuah ketergantungan. Mengapa? Karena dalam tubuh kita secara alami memang terdapat insulin. Hanya saja, kadarnya akan sangat berkurang pada pengidap diabetes. Itulah sebabnya, kemudian mesti di berikan dari luar. Dan dengan demikian, kemudian memberi manfaat kesehatan yang sangat baik. Ini mirip seperti kebutuhan kita akan nutrisi sehari-hari. Kan itu merupakan suatu kebutuhan dan tidak tepat dikatakan sebagai ketergantungan. Karena dengan nutrisi yang kita makan sehari-hari tersebut, tubuh kita menjadi sehat. Jika tubuh tidak memerlukan suatu zat, namun terus ada keinginan untuk menggunakan, maka itulah yang disebut suatu ketergantungan. Misalnya ketergantungan rokok, alkohol atau narkoba.
Mitos lain yang sangat merugikan adalah, anggapan obat diabetes yang dikonsumsi dalam jangka waktu panjang dapat merusak ginjal. Hal ini tentu saja dapat membuat pasien manjadi takut dan kemudian putus obat. Faktanya justru sebaliknya. Salah satu penyabab kasus gagal ginjal paling banyak adalah diabetes. Nah, mengobati penyakit diabetes dengan sebaik-baiknya, dengan sendirinya akan dapat mencegah komplikasi gagal ginjal akibat diabetes. Sehingga pasien pun tidak perlu menjalani prosedur cuci darah. Maka agar penyakit diabetes dapat dikendalikan secara optimal, salah satunya ya harus minum obat atau memakai insulin, secara rutin dan teratur. Ada juga yang meyakini mengonsumsi nasi kemarin atau tuak (aren) dapat mengobati diabetes. Tentu saja hal ini sangat lucu dan tak masuk akal. Bukan saja tidak logis, penelitian mengenai hal tersebut pun tidak pernah ada. Harus diketahui bahwa, semua terapi medis yang akan diberikan kepada pasien harus sudah melewati serangkaian penelitian yang baku. Kalau toh ada obat-obat berbahan herbal yang kemudian dapat diberikan, itu pun bersifat pendamping atau komplementer, bukan sebagai pengganti obat-obat medis.
Ayo menjadi pasien yang cerdas agar kesehatan kita semakin bernas!